PERAHU KERTAS: THE MOVIE PART 1

Menjelang akhir tahun lalu, ada rasa ketertarikan pada Dee, setelah selewat membacara supernova beberapa tahun yang lalu —sewaktu ketertarikan pada novel di mulai. Supernova, pada saat itu, aku pandang sebagai novel yang ngejelimet karena membutuhkan teknik membaca pelan untuk dipahami bagiku yang baru membaca novel. Akhirnya aku tinggalkan supernova dan membaca novel-novel ringan, teenlit. Tahun berganti tahun,  novel dan biograpi yang aku baca semakin meningkat bahkan sudah sedikit meningkatkan margin level ke novel berbahasa inggris atau arab.

Menuju pertengahan tahun 2012, sekilas aku lihat iklan film Perahu Kertas. Dari sekilas thriller-nya sepertinya bagus. Mencari informasi, akhirnya dapet. Ternyata film tersebut didasarkan pada sebuah novel karya Dewi “dee” Lestari. “Wah”, dalam hatiku berkata,  “kembali ke dee. Salah satu penyanyi yang aku suka sewaktu masih tergabung di RSD (RIDA-SITA-DEWI).”  Sekilas tentang RSD.  RSD adalah salah satu female girl band  dari bandung yang muncul di Blantika Musik Indonesia menjelang tahun 2000an, aku lupa tahun berapa mereka muncul. Ada dua lagu yang sangat aku suka, yaitu lagu pertama mereka yang berjudul “Antara kita” dan “Kepadamu” yang kalau ngak salah digubah oleh pemusik dari Malaysia. Kembali lagi pada dee dan perahu kertas .

Aku temukan novel Perahu Kertas, dengan sampul berwana hijau dan lukisan 2D perahu dari kertas. Ketika aku baca testimoni dari beberapa orang yang telah membaca. Sangat menarik. Mereka seperti mengalami perjalanan spiritual —yang kali ini adalah memahami kehidupan dari cerita—yang bukan hanya saja kekaguman pada ceritanya yang begitu flow, tetapi bisa dimengerti dan difahami untuk diimplemantasikan dalam kehidupan.

Sekedar mengulang saja, mengerti dan faham itu beda. Mengerti adalah hasil proses yang terjadi ketika seseorang mencoba mendapatkan informasi dengan pikirannya, karenanya dalam proses mengerti orang sangat menggunakan kemampuan otaknya untuk mengetahui atau menguasai sesuatu. Sedangkan memahami adalah hasil sebuah proses ketika seseorang mencoba mencerna sesuatu dengan akal atau hatinya. Sederhananya mengerti itu pake otak (pikiran), memahami itu pake hati (akal/hati).   Mengertos? Belum? Ok, kita coba menganalogikannya dengan sebuh pembahasan dalam mata kuliah filsafat Ilmu.

Dalam pembelajar filsafat ilmu, ada tiga istilah yang sering kita temukan, yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Hakikat, objek, dan kegunaan. Nah, yang ingin saya kupas bukan itu—maaf anda tertipu, tetapi logis, rasional, supra rasional.

Logis adalah informasi yang didapatkan dan tidak bertentangan dengan kaidah berpikir, kalau istilah sehari-harinya disebut dengan masuk akal. Rasional, pake yang sederhana azja ya, masuk akal dan tidak bertentangan dengan hukum alam, dan Supra rasional, itu maksudnya hanya bisa difahami saja; hanya dirasakan, kita bisa tahu itu. Seperti Pengetahuan terhadap Tuhan, bersifat supra rasional, manusia hanya mencoba melogiskan, tetapi ketika ditanya dimana Tuhan ada, bentuk seperti apa, mengapa harus ada. Semua itu akan terjawab dengan dua hal yaitu logis dan rasional, tetapi ketika bertanya, bagaimana kita tahu ia ada, bagaimana merasakannya, bagaimana mana menghadirkannya, logis dan rasional tidak mampu menjawab apa-apa. Nah, disinilah supra rasional bekerja.

Waduh makin ngelantur kemana-mana aja. Maaf telah membuat anda bingung dengan tulisan ini.

Kembali lagi ke dee dan perahu kertas.

Tadi sampai apa ya….? Hmmm…. Ohya, perjalanan spiritual.

Membaca novel ini, bagiku, seakan mengalami perjalanan spiritual. Perlahan mencoba memahami apa yang dilakukan Kugy dengan eksentriknya, Keenan dengan introvertnya, atau tokoh lainnya dengan pembawaan masing-masing berhasil mengangkat pemikiran yang begitu “melangit” menjadi membumi. Kesederhanaan dalam berpikir, berucap, dan bertindak.

Sayangnya, aku tidak rasakan dari semua itu dari film. Pemilihan Maudy Ayunda sebagai karakter Kugy serasa kurang merepresentasikan Kugy. Entah karena stigma atau imej yang diperlihatkan Maudy di film-film sebelumnya atau dalam wawancara yang begitu kalem sehingga menurut saya kurang cocok memerankan Kugy. Ketika membaca novel, kugy begitu kreatif, supel, dan “bocor”. Untuk dua hal Maudy memilikinya, tetapi untuk yang ketiga, “bocor” (dengan istilah-istilah lain dan senada) tidak terlihat itu ada.  Untuk yang peran lain, tidak terlalu masalah karena bukan center.

Yang kedua, locatan dari satu scene ke scene lain terasa begitu cepat. Entah hasil edit atau memang dibuat seperti itu. Tetapi, dari loncatan scene yang cepat, membuatku tidak merasakan feel seperti ketika membaca novel.

Hal ini terjadi seperti ketika membaca Novel davinci code dan melihat tanyangannya di film, ternyata feel dan suasana di novel tidak mampu digambarkan secara pas. Berbeda dengan Novel Angel and Demon, Film dan Novelnya sejalan.

Oke. Saya akhir saja tulisannya.

Tulisan ini tidak bermaksud mendeskreditkan person to person, tapi hanya mengungkap sebersit perasaan ketika menonton Perahu Kertas part 1.

Untuk Dee, terima kasih telah menuliskan karya yang indah dengan bahasa yang sederhana, lucu, fantastis, racikan yang pas, dan merangsang daya berpikir logi, rasional, dan supra rasional saya berkerja.

About johnazka

Menjadi manusia yang bisa mengerti hati dan memahami pikiran

Posted on January 9, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: