Kawah Putih, Kekecewaan yang terbayar moment

Sebentuk perjalanan aku tempuh dari rumahku di Pangalengan menuju salah situs wisata di kawasann Ciwidey. Kawah putih, begitulah judul yang tertera di pintu masuk kawasan wisata itu. Tempat wisata yang pernah aku datangi dulu bersama beberapa orang muridku dan peternak ketika kami akan mengadakan penutupan Prakerin (Praktek Kerja Industri) SMKN 5 Pangalengan dua tahun yang lalu.

Perjalanan yang ditempuh kurang lebih sama, hanya yang membedakan jalur yang ditempuh. Dahulu menggunakan jalur gambung, melewati kehijauan kebun teh dan “kengerian” dalam pegunungan gunung tilu, atau yang di peta disebut dengan gunung malabar. Sepi. Pegunungan asri, yang memungkinkan masih terdapat hewan-hewan liar. Seperti cerita beberapa Tukang Moro (pemburu) di Pangalengan bahwa di sana masih ada meong (macan), tapi jika mencari keindahan alam perkebunan lewat jalan itu bukanlah pilihan yang salah.

Perjalanan kali ini aku tempuh lewat jalur “kota” melewati beberapa kemacetan dan sedikit padatnya lalu lintas. Bersama istri tercinta menjelajah ketinggian jalur menuju kawah putih. Dan sampailah di tempat yang dituju.

Kesan yang pertama yang dirasakan adalah KAGET, “KO JADI MAHAL GINI”. Ok, secara sudah dua tahun. Tetapi kenaikan setinggi ini?! gumamku dalam hati. Dengan ketentuan baru seperti ini, hal yang pertama dirasakan adalah tidak nyaman.

Perlahan-lahan, aku mulai paham. Ada beberapa peraturan baru, motor tidak boleh lagi naik ke atas langsung, setiap pengunjung diwajibkan menggunakan angkutan yang disediakan, kecuali mobil pribadi bisa naik langsung, dengan tarif masuk yang cukup fantastis Rp. 150.000,- belum termasuk tiket masuk perorang, begitulah kata beberapa pekerja yang aku ajak ngobrol di dekat kawah. Dari kisah yang mereka tuturkan terdapat kekecewaan yang besar yang terlihat langsung dari wajah mereka, dan mereka mengakhiri dengan kalimat “beginilah nasib orang kecil”. Aku pun meninggalkan mereka.

Kawah yang terbentang kini menjadi pemandangan kami. Tampak ratusan orang berkerumun di setiap titik yang mereka anggap bagus sebagai spot untuk berfoto. Dari yang menggunakan HP, Kamera Poket, hingga kamera DLSR silih bergantian memencet shutter dari setiap kamera. Begitu pun kami, tidak luput dari demam “hoyong ka aku tos ka kawah putih”.

Beberapa titik kami sambangi untuk mengambil foto. Sendiri, bergantian, atau bersama. Dengan, teknik asal, framing seadanya, dan pose pun sedapatnya. Terutama untuk foto bersama, kami tidak meminta bantuan orang lain, hanya mengandalkan bebatuan, ranting, dan beberapa benda yang ada di alam. Dan, setelah sedikit retouch dan crop, terlihat bagus. Setidaknya menurut kami.

Kini tempat itu memberikan kenangan indah. I take this moment to propose my viance to be my future life. To walk and fight, to face and Pace, to get close to heaven.

Sebentuk kekecewaan yang berubah menjadi kebahagian dikali hati mengungkapkan rasa yang terpendam, kelu yang terkekang, imaji yang diidam, dan semuany mengalir di antara reranting, putihnya langit, kawah, dan hujan yang perlahan jatuh.

Tentang 23 Desember 2012

About johnazka

Menjadi manusia yang bisa mengerti hati dan memahami pikiran

Posted on December 26, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: