Tentang KONFLIK

KONFLIK. Sesuatu yang alamiah hadir dalam kehidupan manusia. Konflik dimunculkan sebagai jembatan antara tesa dan antitesa, yang bisa dipandang dengan kacamata lain bisa disebut kepentingan a dan kepentingan b, dan sintesa adalah pertemuan keduanya. Sintesa dalam prosesnya tidak berhenti menjadi sintesa saja, ia akan berproses menjadi tesa, dan dengan sendirinya akan memunculkan antitesa. Proses ini akan terus berjalan hingga akhir dunia ini.

Bila disederhanakan dalam dibahasa yang membumi tesa dan antitesa ini bisa berupa pertentangan keinginan, perbedaan sudut pandang, atau pertentangan kepentingan yang kesemua hal itu bisa dipertemukan dalam komunikasi. Hanya saja, manusia bukan barang mati, pada kenyataannya komunikasi itu sulit tercapai karena ego yang, terkadang, menjauhkan dari inti permasalahan.

Jembatan konflik ini sebisa mungkin harus bisa dilewati keduanya dengan kesadaran akan kebutuhan untuk memahami yang lain. Penilaian yang sering kali mengedepankan penilaian akan superioritas diri sendiri dibandingkan yang lain, di saat ini harus ditinggalakan. Di saat ini keduanya harus sama merendah, sehingga mutual understanding bisa tercapai.

Mutual understanding bukan suatu yang mudah. Dibutuhkan beberapa prasyarat untuk mendapatkan hal itu, salah satunya adalah kedewasaan. Kedewasaan merupakan salah satu syarat mutlak selain perangkat ilmu  dan pemahaman untuk mencapai hal itu. Sebagai contoh, saya yang merasakan komunikasi yang terjalin dibeberapa hari ini yang begitu menjengahkan (akibat diri saya sendiri) semua itu tidak akan selesai jika upaya untuk memberikan pemahaman itu tidak dilakukan terhadap pasangan saya. Tetapi, masalah lain, di saat seperti ini, bisa saja muncul.

Kemunculan masalah lain merupakan konektifitas dari permasalahan yang ada. Misal saja, di saat kita berusaha mencoba memberikan kejelasan untuk semua itu, seseorang tersebut malah lari dari kehadiran kita. Contoh lain, tindakan kita mengulur ulur waktu untuk memberikan kejelasan bisa memunculkan masalah lain. Di saat ini kita sedang mengalami masalah ketidak harmonisan komunikasi yang belum juga tuntas muncul masalah baru, misalnya, kita dianggap tidak memperhatikan, tidak mempedulikan, tidak menganggap penting, atau hal-hal semisalnya yang merupakan akumulasi kekecewaan yang di alami.

Di saat ini dibutuhkan “Mengalah untuk menang”. Mengapa? Karena jika tetap saja keduanya atau salah satunya menggap dirinya sebagai pihak yang dirugikan akan sulit untuk dipertemukan. Pihak A menggap dirinya di sakiti karena sulitnya pasangan memahami dirinya, atau sebaliknya pasangan A merasakan yang berbuat itu adalah dia terhadap dirinya. Semua itu tidak akan berakhir.

NgeTeh yukk. Begitulah slogan iklan serbuk teh yang telah beberapa kali mengambarkan konflik komunikasi yang diakhirkan dengan komunikasi empati yang di awali minum teh. Hal itu bisa saja dilakukan sebagai jalan untuk mencapai komunikasi empati*).

About johnazka

Menjadi manusia yang bisa mengerti hati dan memahami pikiran

Posted on September 29, 2012, in Mengenal diri and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Merasa tertampar *heuheu
    Bagi saya yang komunikasinya jelek mungkin patut meresapi ini semua, tentang apa itu komunikasi, tentang apa itu ego, tentang apa itu empati, tentang apa itu konflik yang bisa saja timbul dari komunikasi yang tidak lancar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: