belajar SETIA

Tentang kesetian, tentu akan banyak penafsiran jika kita berbicara secara definisi. Layaknya cinta, terlalu banyak orang menafsirkan kata cinta, ada yang mengartikan itu kesetian, kesepahaman, pengertian, dan banyak lagi para penafsir yang mencoba menyentuh dunia cinta. Dan, begitu pun kesetian.

Apa sih kesetiaan? Mengapa harus setia? Padahal banyak yang tidak setia, bahkan beberapa diantaranya, memperlihatkan ketidak setiaannya secara nyata.

Mencoba menyentuh dunia kesetiaan.

Kesetiaan adalah saat dimana penolakan dan peniadaan tidak berarti apa-apa. Kesetiaan merupakan jasad yang mengerak bersama batu-batu. Ia adalah pengunungan yang menggunung tinggi. Ia adalah langit yang menaungi. Kesetiaan  adalah the one who stand when she/he walk away, and I’ll be standing here still (Celine Dion-to love you more)

Ketika kita menilik cerita atau sejarah lama, sangat mudah kita temukan cerita-cerita kesetiaan. Sebut layla-Majnun, Romi-Juliet, Sam pek-Eng Tai, atau kisah lainnya. Mitos-mitos daerah biasanya menyebutkan sebuah cinta dan kesetian yang tak kesampaian. Dan, cerita-cerita ini melenakan kita dari berpikir jauh ke depan, memimpikan masa yang lebih baik.

Say it’s true ‘cos nothing like me and you. Salah satu permintaan akan kesetiaan. Tetapi, yang saya ragukan adalah apakah ini adalah sebuah karunia atau musibah? Setelah melihat sebagian besar orang menyiksa dirinya —dengan memedulikan dan hanya memimpikan dirinya seorang—seakan ketika mata tidak mau memandang yang lain, lisan tak menguntai kata selain untuknya—semua terhenti pada satu/sesuatu/ seseorang. Betapa sukarnya memutar haluan, mencari pantai yang baru, untuk melabuhkan jangkar, kata sang pelaut.

Berubah. . . .

That’s the key. Tapi sukar. Untuk melupakan, untuk berpaling, untuk lepas, dan untuk berlari jauh dari diri dan bayangnya. Saya sungguh tersiksa. Inilah beberapa pernyataan yang sering terlontar ketika saya mengeluh masalah perubahan. Susah.

Bukan hal yang gampang, dan memang itu sulit karena kita adalah manusia yang mempunyai potensi untuk  menyiksa diri. Itulah kita, dan memang begitu adanya kita. Mampu menyiksa diri sendiri tanpa bantuan orang lain.

Begini maksud saya. Contoh, ketika saya menyukai seseorang, saya kejar dia. Tetapi, apa yang saya dapat hanya penolakan dan penolakan bahkan, senyum yang biasa terlontar pun hilang. Ketika hal ini terjadi,  apa langkah yang mesti di ambil apakah (1) Saya harus tetap mengejarnya untuk mendapatkan—dengan falsafah cinta yang paling popular: lemparlah tembok itu dengan Lumpur, memang tak akan menghancurkannya tetapi itu akan membekas di dindingnya, (2) Saya berdiam diri hidup bersama kepahitan ini, (3) saya bunuh perasaan ini,  atau (4) saya hidup bersama waktu.

Dari, empat kemungkinan yang saya ajukan mana yang kita pilih? Karena imbas negatif yang kita dapatkan adalah kita membangun kepedihan dalam diri kita sendiri dan, terkadang (memang kebanyakan dari kita), menyalahkan “si dia”—seseorang (diluar diri kita) yang diinginkan—sebagai penyebab penderitaan kita. Tetapi, pernahkah kita pikirkan siapa sebenarnya yang telah menyiksa kita? Kita atau orang lain?

Terkadang logika tertutup hati. Tetapi permasalahan bukan itu. Masalahnya  apakah kita akan terus terlena dengan hati, atau membuka hati untuk melangkah mencari titik yang baru menemui takdir yang lain?

Marilah kita buka mata, mari kita bangun dunia kita, dunia yang baru. Bagi saya, berjalan dengan waktu adalah hal yang, sekarang ini, saya anggap cocok. Saya tidak harus membunuh perasaan, tetapi saya setia pada kenyataan, dan biarkan cerita di hidup berwarna kembali, seperti warna yang telah ia hadirkan dalam hidup saya, di masa lalu yang akan hadir di masa datang, denganya atau dengan takdir yang lain. Wallahu’alam

About johnazka

Menjadi manusia yang bisa mengerti hati dan memahami pikiran

Posted on September 16, 2012, in Mengenal diri and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: