KESADARAN (sebuah tulisan yang belum beres)

Terik siang mulai menggodaku, perlahan sengatannya menyentuhi kulit dan lambat laut, keringat pun bercucuran. Kayuh laju sepeda perlahan mulai hilang dan…… gubgrak…. Aku terjatuh tak sadarkan diri.

* * *

Kesadaran adalah puncak keberadaan manusia. Manusia akan bermakna dan memberikan makna jika dia memiliki kesadaran, kesadaran akan kehadiran sebagai manusia, kesadaran arti hidup sebagai manusia, kesadaran akan kebersamaan, kesadaran akan kesendirian, kesadaran akan keniscayaan kemanfaatan, dan yang paling tinggi adalah kesadaran akan kefanaan dan kehadiran Tuhan bersama dirinya. Sebagian besar ahli agama menganggap bahwa ketinggian derajat manusia adalah ketika dia memahami ketiadaannya, ketidak berartiannya, karena yang Ada adalah Tuhan, yang berarti adalah Tuhan. Sehingga pemahaman wahdatul wujud atau kesatuan wujud dalam tataran material adalah kefaaan diri karena yang hadir adalah Tuhan, bukan berarti kita bersatu dengan Tuhan. Secara materil hal itu sangat tidak akan mungkin.

Seperti saat ini ketidak sadaran ku meniadakan aku dari keadaan dunia. Di saat mata terpejam, pikiran terdiam, dan hati membisu. Sungguh, sesuatu yang sulit dilogikakan. Betapa tidak? Bisakah akal memahami kenapa mata bekedip, mata terpejam, nafas berhembus, darah yang mengalir dalam tubuh, dan lainnya. Akal memahami itu hanya dari gejala yang terlihat, otomatis membutuhkan daya gerak dan diam. Karena akal tidak bisa memahami apa yang ada diantara. Seringkali mengakhrkan kesimpulan yang kosong atau menjadi sesuatu yang jadi perdebatan.

Adakah sesuatu diantara gerak dan diam? benarkan diam itu bergerak? Atau bergerak itu diam? Dari hal-hal yang sederhana inilah akal mulai bekerja, dan ketika kehilangan alas an untuk membenarkan, akhirnya ia menyimpulkan bahwa hal itu meta, supra, bahkan gaib.

Pada suatu ketika akal akan berhenti. Keberhentian akal bukan karena fungsi yang menghilang melainkan akal tidak mampu bergerak lebih jauh. Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam yang menciptakan berbagai mahluk dengan jenis dan kemampuan yang berbeda, tentu saja, memberikan kelebihan dan keterbatasan. Kelebihan dan keterbatasan ini bukan hanya sekedar asesoris atau pelengkap semata, tetapi keduanya menjadi kesempurnaan yang menciptakan harmoni dan relasi yang seimbang dalam kehidupan di dunia ini.

Sederhananya begini. Jika semua mahluk, Allah berikan kelebihan, akan muncul sebuah pertanyaan, “apakah kelebihan itu ada?” salah satu indicator adanya sesuatu adalah adanya lawanya. Konsep ini sering disebut dengan dualitas. Dualitas ini menjelaskan bahwa pada dasarnya sesuatu diciptakan berpasangan dan berlawanan, seperti siang malam, baik buruk, hitam putih, laki-laki dan perempuan. Semua ini adalah sesuatu yang menegaskan adanya sesuatu yang lain. Maka, keberadaan adalah menjadi sesuatu yang niscaya dan tak terbantahkan.

* * *

Hitam. Pekat. Perlahan warna putih muncul, lambat laun semua mulai terlihat. Sejenak terlihat wajah-wajah yang tak ku kenal. Perlahan aku mulai melihat dan memperhatikan siapakah mereka. Ternyata memang aku tidak kenal, secara aku pingsan entah di mana.

“jangan bergerak dulu!!!” terdengar samar olehku,”jangan bergerak dulu!!!” beberapa kali kalimat itu terus berulang, hingga akhirnya aku ngeh.

Aku tak mampu menggerakan tubuh ini. Dan perlahan, rasa sakit mulai datang. Pelan namun pasti, sakitnya kian menguat, dan aku mengerang, sakit………………..

*******

About johnazka

Menjadi manusia yang bisa mengerti hati dan memahami pikiran

Posted on June 23, 2012, in Mengenal diri. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: